West Papua – PULAU Papua adalah pulau yang terletak bagian Timur dari dari wilayah Indonesia. Dilihat dari bentuknya pulau Papua serupa dengan burung surga atau disebut dengan burung Cenderawasih (Sp. Paradise). Pulau Papua juga merupakan pulau yang memiliki potensi ekosistem yang paling unik, memiliki beranekaragaman jenis flora dan fauna, dengan itu pulau ini memiliki harta atau potensi yang tak mampu dibandingkan dengan wilayah lain. Potensi kekayaan Alam yang mendunia, sehingga potensi ini bisa tercium oleh seluruh belahan Dunia.
Sebelum kehadiran PT. Freeport Tembagapura, masyarakat Papua menghidupi sebagai simbiosis mutualisme, artinya Sumber Daya Alam (SDA) dan masyarakat Papua menghidupi saling ketergantungan. Kehidupan masyarakat Papua tidak terlepas dari hasil produksi Alam begitupun Alam juga merasa senang dan terjaga ketika masyarakat Papua selalu merawat dan proteksi.
Dalam keberlangsungan hidup, masyarakat Papua lebih khususnya suku Amungme, Kamoro, dan lainnya berada di dekat Gresberg belum mengalami larangan dalam melakukan aktivitas kehidupan dengan alam.
Mereka juga belum pernah mengalami bencana Alam akibat limba kimia, belum juga mengalami kematian manusia yang belum pada target Tuhan. Kehidupan masyarakat Papua dan Alam Papua benar-benar simbiosis mutualisme (Alam dan masyarakat Papua sangat membutuhkan). Agar Alam Papua dengan Masyarakat Papua hidup terkendali, berkesinambungan, terhindar dari suatu kendala, aman, dan nyaman.
Seiring berjalannya waktu, pada tanggal 16 Februari 1623, seorang pelaut belanda yang bernama Kapten Jan Carstensz melihat sebuah puncak gunung tertinggi di Papua. Ia juga bukan hanya melihat saja, musti mencium harta karong yang tersimpan di perut bumi Papua. Setelahnya ia mencatat dalam buku log booknya dan menghadirkan PT. Freeport di Papua tepat di Timika dan kini disebut sebagai PT. Freeport Tembagapura.
Nah, sebelum hadirnya PT. Freeport di Timika kehidupan masyarakat Papua dengan Alam Papua saling ketergantungan. Dengan kehadiran PT. Freeport Tembagapura Papua Timika mengganggu hubungan keakrabatan antara Alam dan Masyarakat Papua, membasmi kekuatan Alam sebagai sumber produktif, serta membunuh karakter masyarakat Papua akan rasa kepedulian bahwa Alam adalah hubungan terbaik dalam keberlangsungan hudup, bahkan masyarakat pribumi yang artinya pemilik tanah hidup berantakan di bawa pondok di balik Gesberg.
Tahukah Anda bahwa hubungan antara PT. Freeport dan Alam Papua merupakan simbiosis parasitisme ?
Mengapa demikian, sebab sesuai dengan realita yang terjadi baik itu mulai sejak hadirnya PT. Freeport 1623 hingga sampai saat ini 2021 Tembagapura masih tetap saja terkuras harta karung yang tersimpan di perut bumi, sedangkan Alam Papua menjadi kering dan kelihatan tulang.
Stornya kekayaan harta karong emas, Tembaga, dan lain begitu deras sementara itu yang tertinggal hanyalah debu, rangka, serta meninggalkan virus yang hendak nantinya melahirkan seribu jenis penyakit. Penyebab kematian masyarakat dan Alam itu sendiri, dengan itu hubungan kehadiran PT. Freeport adalah benar-benar simbiois parasitisme.
PT. Freeport dan alam Papua merupakan hubungan parasitisme, sebab PT. Frepoort memberikan kenikmatan negara, namun pribumi tetap memberikan kerugian, penindasan, kemiskinan, bahkan di tembak serta masyarakat Papua menjadi objek dalam pengelolaan tambang.
Baca juga: Persipura Papua dan Barcelona Catalan
Semenjak PT. Freeport masuk hingga saat ini tak pernah ada dialog antara pemilik tanah dengan tuan PT. Freeport, apakah hal seperti demikian ini harus terjadi? Ataukah hal seperti itu sesuai dengan ketentuan-ketentuan pokok pertambangan UUD NO. 11 TAHUN 1967 Bab XIII ayat 25? Ironisnya, demikian permainan negara ini masih tetap disayangkan dalam pengelolaan tambang, sebab masyarakat daerah dan negara tidak memproleh hasil yang profesional dari hasil pertambangan.
Mari kita sedikit contohkan penjumlahan hasil tambang. Saat ini kuantitas produksi yang dapat diperoleh Freeport dalam sehari adalah 185 ribu sampai 200 ribu ton biji tembaga dan emas. Singkatnya, Freeport dapat mengeruk dari kedua lokasi tersebut sekitar 30 juta ton tembaga dan 2,744 miliar gram emas.
Bila hitung secara kasar dengan standar harga per gram emas 100 ribu rupiah, berarti nilai emas yang terkandung di bumi Papua sekitar 270 triliun rupiah. Itu baru dari emas saja, belum lagi produk tambang lainnya. Untuk itu, negara ini masih tetap di sayangkan dalam perolehan hasil opersional tambang.
Bukan hanya emas yang dikuras habis, Freeport ini telah menimbulkan kerugian beberapa kerugian. Di antaranya masalah ekonomi yang dinikmati kelompok segelintir, artinya tambang Erstberg dan eksplorasi mereka selanjutnya yang menemukan tambang Grasberg di Papua sana menyimpan cadangan biji emas, perak, dan tembaga yang seolah tak ada habisnya.
Keuntungan Freeport dari semua hasil penjualan produk tambang tersebut ditaksir mencapai Rp21 triliun. Tetapi, mayoritas pemasukan tersebut hanya dinikmati kalangan petinggi perusahaan. Jelas hal itu akan semakin membuat gemuk rekening mereka.
Selanjutnya, dampak sosial yang memprihatinkan bagi masyarakat di sekitar, ternyata keuntungan tuan Freeport yang diperoleh Freeport tidak merta dirasakan oleh para penduduk di sekitarnya. Terdapat kesenjangan lebar antara mereka yang bekerja di Freeport dengan penduduk setempat. Para penduduk asli yang tinggal di komplek pertambangan tersebut ternyata hanya menempati indeks pembangunan sekitar 300an sebelinya dialihkan di kabupanten lain di Indonesia. Sebagian besar penduduknya kesulitan memperoleh akses kesehatan atau air bersih.
Area pertambangan semakin luas, sedangkan wilayah permukiman penduduk semakin tersingkir. Area modern di sekitar Timika hanya di tempati oleh kalangan pendatang yang biasanya merupakan para profesional. Ironisnya bukan, ketika kita melihat adanya permukiman kumuh di sekitar kawasan pertambangan terbesar, yang bukan hanya di Asia saja, tapi juga di dunia.
Lanjut lagi, pelanggaran HAM yang kebenarannya tak pernah tersorot oleh media, salah satu yang paling memprihatinkan adalah banyaknya pelanggaran HAM yang terjadi di tanah Papua tersebut. Masyarakat asli yang berasal dari suku Amungme dan suku Komoro yang merupakan pemilik sejati kekayaan di sekitar daerah itu, tersisi begitu saja oleh tangan-tangan kapitalisme yang menguasai pertambangan tersebut.
Baca juga: Demi Emas di Papua, CIA Gulingkan Sukarno dan Kennedy
Lanjut, masalah pencemaran lingkungan yang tiada jeda. Dari total luas wilayah dan masa mereka beroperasi, Freeport telah menimbulkan dampak lingkungan yang tak main-main. Terlepas dari banyak atau sedikitnya permintaan negara-negara di dunia terhadap logam mulia yang dihasilkan, Freeport tak pernah melihat tanda-tanda perubahan iklim yang terjadi. Operasi Tambang sampai saat ini terus berkelanjutan diikuti dengan berkelanjutannya pencemaraan lingkungan, bencana Alam, banjir yang kian tak henti.
Akibat lingkungan terkurung oleh sampah operasi tambang, semua jenis flora dan fauna yang menghidupi di atas tanah Papua mengalami kepunaan yang luar biasa. Seiring dengan waku bulan, tahun perubahan iklim buruk pada alam lingkungan ini terus terjadi, kehadiran PT. Freeport membawa malapetaka bagi hubungan keberlangsungan makhluk hidup, manusia Papua, dan Alam Papua.
Sementara itu, tidak terhitung dengan segala macam masalah seperti kemiskinan, pembunuhan jenis makhluk secara liar, menebang pohon yang tak kunjung henti oleh manusia-manusia konsumtif dan lainnya. Dan paling parah lagi adalah tingginya tingkat racun tailing dan logam berat yang telah mencemari lingkungan perairan serta ekosistem flora dan fauna yang ada di sekitarnya.
Jadi, kesimpulan yang dapat saya ambil ialah, kehadiran PT. Freeport Tembagapura membawa malapetaka hubungan kehidupan antara masyarakat Papua dan Alam Papua, serta mengisap harta karung dan meninggalkan seribu jenis virus pemusnahan alam dan manusia Papua (hubungan parasitisme), bahkan PT. Freepotr menjadi bisnis bagi orang kuat.
Oleh: Jimmi K [mahasiswa Papua yang mengenyam pendidikan di Uncen]