Tugas Selanjutnya Adalah…

VA Safi’i

“Revolusi tidak hanya mengubah kehidupan materiil manusia. Revolusi juga harus mengubah manusia dan kebudayaannya.” Kurang lebih begitulah pemikiran Fidel Castro tentang tugas dan tujuan revolusi.

Ya, mengubah kehidupan materiil manusia berarti mengubah sistem perekonomiannya. Mengubah manusia berarti mengubah mentalitasnya. Mengubah kebudayaan berarti mengubah norma-norma dan nilai-nilainya. Tanpa diikuti perubahan mentalitas dan kebudayaan, maka revolusi tidak akan bertahan lama, bahkan cenderung BARBAR.

Lihatlah hasil revolusi di bidang teknologi yang dilakukan oleh negara-negara Barat. Mereka menggunakan keunggulan teknologi yang dimilikinya justru untuk MENINDAS dan MENGHISAP negara-negara yang masih tertinggal teknologinya. Dan seterusnya. Masih banyak contoh lainnya.

77 tahun usia kemerdekaan Indonesia. Ah, baru 77 tahun. Ah, mengapa baru 77 tahun?

Indonesia sebagai sebuah negara yang berbentuk REPUBLIK memang baru berusia 77 tahun. Indonesia yang berbentuk “negara modern” memang baru berusia 77 tahun.

Sebelum tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia sebagai “negara modern dan republik” belum ada. Yang ada adalah negara-negara kecil dengan segala perbedaan sistem, bentuk dan pola pemerintahan yang menyebar di banyak pulau. Dalam ilmu sejarah, negara-negara kecil pra 17 Agustus 1945 ini biasa disebut sebagai negara-negara kerajaan. Ya, era FEODALISME.

Baca Juga: Kapitalisme Kerdil

Umumnya negara kerajaan, sudah pasti kekuasaan tertinggi ada di tangan RAJA. Kepentingan dan kebijakan negara dibuat untuk melayani kepentingan raja dan keluarganya, bukan kepentingan rakyatnya. Raja yang berkuasa, rakyat yang dikuasai. Raja yang mendominasi, rakyat yang didominasi.

“Negara adalah perwujudan dari kepentingan kelas; hasil dari PERTENTANGAN KELAS.” Begitulah Karl Marx mendefinisikan mengenai negara.

Indonesia yang sekarang, yakni Indonesia yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini merupakan sebuah negara yang dihasilkan dari gerakan REVOLUSI KEMERDEKAAN NASIONAL. Sebuah sintesis dari pertentangan antara kekuatan kolonialis (penjajah Eropa) dengan kekuatan anti kolonialis.

Umumnya revolusi kemerdekaan adalah revolusi BORJUIS. Sebuah revolusi yang DIGERAKKAN oleh golongan elit ekonomi dan politik menengah ke atas dengan melibatkan golongan masyarakat bawah. Tujuan utamanya adalah melawan dan mengusir penjajah.

Juga, bukan rahasia umum lagi bahwasanya di masa lalu terjadi konflik atau pertentangan antar elit politik pergerakan dimana ada golongan yang kompromis dan non-kompromis. Golongan kompromis merupakan sekumpulan elit gerakan beserta organisasinya yang dalam meraih kemerdekaan nasional memilih jalan “makan satu meja dengan penjajah.” Dan, ada pula yang tidak mau makan satu meja. Saya yakin, anda sudah tahu golongan mana dan siapa-siapa saja yang masuk dalam kategori kompromis dan non-kompromis. Saya tidak perlu menjelaskannya. Pertentangan tersebut terus berlanjut hingga hingga setengah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Apa yang dikatakan oleh Karl Marx menjadi bukti bahwa negara Indonesia saat ini merupakan negara yang mewakili satu kelas, yakni kelas borjuis. Negara Indonesia, sebagaimana yang dipikirkan oleh Lenin belum terwujud: negara PROLETARIAT (baca: rakyat pekerja).

Sebutan “republik” tidak otomatis membawa Indonesia pada sebuah negara yang mementingkan kepentingan publik (rakyat). Justru sebaliknya, Indonesia yang REPUBLIK telah berubah menjadi Indonesia yang REPRIBADI.

Kembali ke pemikiran Fidel Castro bahwa revolusi tidak hanya mengubah kehidupan materiil manusia namun harus juga mengubah mentalitas manusia dan kebudayaan masyarakatnya. Dari segi kehidupan materiil, nasib rakyat Indonesia sebagaimana pepatah “jauh panggang dari api”. Pada tingkat kebutuhan hidup paling mendasar seperti pangan, sandang dan papan masih jauh dari harapan. Nasib petani dan buruh jauh dari kata bahagia dan sejahtera. Sudah barang tentu, jika dibandingkan dengan masa lalu, kehidupan materiil sekarang masih lebih baik dibandingkan era penjajahan, masih lebih baik jika dibandingkan dengan era tahun-tahun awal kemerdekaan, juga masih lebih baik bila dibandingkan dengan era Orde Baru. Sistem kolonialisme (penjajahanisme) dengan baju barunya, yakni NEOLIBERALISME menjadi salah satu penyebab utama bagi kurang berubahnya kehidupan materiil rakyat Indonesia.

Segi yang lain berkaitan dengan MENTALITAS. Satu yang pasti bahwa selain berlakunya sistem neoliberalisme, penyebab gagalnya penuntasan revolusi kemerdekaan nasional adalah hilangnya mentalitas REVOLUSIONER.

Anda pasti tahu, proses penghilangan dan penghancuran mentalitas revolusioner telah berlangsung lama. Elit-elit dan kelompok-kelompok KOMPROMIS sejak dari awal berupaya secara terus-menerus menghancurkan mentalitas tersebut. Puncaknya adalah saat meletusnya pembantaian 1965 yang kemudian dilanjutkan dengan berkuasanya Rezim Orde Baru.

Pendidikan nasional sebagai salah satu jalan membangun dan mengembangkan mentalitas revolusioner sama sekali tidak ada di era Orde Baru. Jenderal Soeharto menjadikan pendidikan nasional sebagai instrumen dan sekaligus pabrik untuk memproduksi intelektual-intelektual dengan mentalitas BUDAK.

Teringat perkataan Lenin bahwa “seseorang tidak bisa dipersalahkan karena terlahir sebagai seorang budak.” Benar. Yang jadi masalah adalah bahwa orang tersebut setelah dewasa mengetahui bahwa dirinya adalah seorang budak dan celakanya orang tersebut menikmati perbudakan yang dialaminya.

Untuk aspek atau segi kebudayaan, saya tidak lanjutkan. Jika dilanjutkan maka tulisan ini menjadi panjang. Hehehe…

Jadi, tugas selanjutnya apa?

Yang pasti bukan seperti lomba panjat pinang dimana untuk meraih kesuksesan dilakukan dengan cara menginjak-injak yang di bawah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.