Hati Kita seperti Emas

Sepotong emas tertimbun di sebuah tempat sampah selama hampir 50 tahun. Selama itu, ribuan keluarga membuang sampah di tempat tersebut.

Pada suatu waktu, sebuah gereja membeli tanah itu untuk membangun gedung ibadah. Mereka menyewa alat berat untuk mengangkat dan memindahkan sampah. Pekerjaan itu memakan waktu tiga minggu. Akhirnya, seluruh sampah berhasil dibersihkan. Setelah semua sampah terangkat, operator alat berat menemukan potongan emas yang telah lama tertimbun. Di potongan emas itu tertulis, “love never dies” yang berarti’ cinta atau kasih tak pernah mati’.

Kisah tersebut mengingatkan saya pada Yesus Kristus. Walaupun ia dihina, diejek, diolok – olok, diludahi, disalibkan, dan akhirnya mati serta dikuburkan. Namun, kasih Allah itu tetap hidup; cinta kasih Allah kepada kita tetap abadi. Pengampunan dari darah Yesus yang tercurah itu selamanya menjadi milik kita.

Ada pelajaran kedua yang dapat kita petik dari kisah emas itu. Sekalipun sudah tertimbun sekian puluh tahun dalam tanah, emas itu tidak berkarat dan ketulusan yang Anda miliki bertahan, tetapi suci murni dalam kehidupan.

Mungkin saudara dihina, dicaci maki, diinjak – injak dijelekkan, dihancurkan nama baik pribadi serta keluarganya. Namun, jika saudara dapat mempertahankan nurani yang suci dan murni, saudara seperti emas. Oleh sebab itu, jangan pernah hilang keyakinan atau merasa takut ketika diremehkan. Jangan pernah ragu dan bimbang. Tetaplah berdiri teguh dengan keyakinan bahwa Anda adalah unik dan khususnya dari Tuhan.

Artikel Menarik Lainnya:

Hormatlah dan berterima kasihlah kepada mereka yang mengihina serta mencaci saudara. Mereka bukan musuh, melainkan sahabat terbaik dalam kebidupan saudara. Ingat, Tuhan Yesus telah memberikan teladan melalui pernyataan-Nya, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu bahwa saudara adalah emas. Ingat: Love never dies.”

Ada satu hal yang perlu dijadikan pegangan kita bersama. Tuhan telah merelakan diri-Nya dicaci maki, diludahi, dihina, bahkan disalibkan dengan berbagai siksa yang harus ditanggung-Nya. Melalui bilur – bilur-Nya itulah, Ia menjadikan kita manusia yang bermartabat serta berharga.

Kita pun tidak perlu membela diri dengan cara kita karena kita memiliki pembela yang adil dan berkuasa, Yesus Kristus, Mesias, Anak Allah yang hidup. Ia telah hadir ke dalam dunia untuk membela kita tanpa memandang latar belakang pendidikan, status sosial, juga suku kita. Kita berharga di mata Allah. Kita adalah gambar dan rupa-Nya (lihat Kejadian 1:26). Namun, kita sering melupakan kebenaran itu. Bahkan, kita sering tidak berterima kasih kepada Tuhan atas berkat dan anugerah-Nya bagi kita.

Ada teladan lain yang dapat kita tiru dari Tuhan Yesus. Ketika Ia diberondong dengan berbagai tuduhan palsu, Ia menjawab satupun. Semua dihadapi-Nya dengan diam dalam kesabaran. Jawab-Nya hanya dikeluarkan untuk menanggapi hal – hal yang berkaitan oleh pemazmur, “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai diri, melalui, melebihi orang yang merebut kota” (Ams 16:32). Sumber. Bacaan, Di sini Aku Berdiri.
Dr. Socratez Sofyan Yoman Hal.108-109

Semoga catatan pendek ini menjadi berkat bagi sahabat – sahabat yang setia membaca dan melaksanakannya.

Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.

Tiom: 03 November 2021
Oleh : Sepi Wanimbo [Ketua Pemuda Baptis Di Tanah Papua, Anggota Forum Pemuda Kristen Di Tanah Papua]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.